“Our bigger blessing girl, is being young. The power of not knowing, where you belong.” - Kings of Convenience
Fix sejak kelar second year ini gue udah mulai makin intens ditanyain nyokap soal “rencana ke depan”. In this case sebenernya penekanannya ada di “cari beasiswa buat tancap gas langsung master taun depan”, which, to be honest, bugs me.
Kenapa?
Ya karena sekarang ini gue gak punya tuh yang namanya rencana ke depan. HAHA.
Well maksudnya sih, rencana ke depan yang sesuai dengan penggambaran ‘sukses’ versi nyokap dan keluarga gue.
Untuk keluarga gue (keluarga besar ya) yang mayoritas super career-and-education oriented, sukses itu karir yang bonafid, kalo bisa sih jadi lawyer-banker-diplomat gitu (clearly I have failed to achieve this goal hahaha). Tapi inti sebenernya sih harus punya karir kece dan successfully secure my ass off to the top management. Dan tentunya untuk bisa nyampe ke posisi tinggi itu ya mesti ada persiapan dan perencanaan yang - oke ORBA terminology coming - mumpuni kan.
Caelah mumpuni. Lahir taun berapa sih gue?
Anyway, balik lagi ke soal perencanaan masa depan, jujur aja sih alesan gue rada gak sure sama master itu karena gue gak tau nanti ilmunya bakal gue aplikasikan ke bidang apa. Well, if I have to do a master next year, most likely gue akan ambil Southeast Asian studies, fokusnya di urban culture - because I love cities! Itu aja, if I do go on for a master in September 2013, it’d be 100% for the sake of learning. Which is not wrong, of course. But surely, some people are going to raise their eyebrows, belajar tentang kota-kota besar Asia Tenggara, emang mau kamu pake buat kerja dimana?
Well sebenernya sih cuma mau dipake buat referensi cultural lifestyle buat novel spiritualis kritis humanis urbanis gue nanti hahaha.
Hhm, iya ya buat kerja di mana ya? Di UNESCO barang kali - which would be awesome actually. Atau gak ya bisa jadi koresponden buat majalah-majalah atau kantor berita gitu.
Jadi koresponden atau UNESCO gitu bagus tuh, duitnya bisa gede.
Ah, duit mulu ah.
Well, yang penting harus punya karir yang jelas.
Karir. Karir yang jelas. Gini ya, makin ke sini rasanya gue makin gak termotivasi untuk jadi wanita karir. Karir di bidang apa coba?
As much as I enjoy writing for a newspaper/magazine, in the long run, gue gak punya ambisi untuk jadi orang kaya Anna Wintour atau Tyler Brule. Kalopun gue sampe ke posisi editor in chief buat let’s say, Rolling Stone or Monocle, gue juga gak mau berada di posisi itu sampe bertahun-tahun. In my ideal world, menjadi kolumnis itu adalah pekerjaan part time.
Misalnya pun gue kerja di bidang development atau human rights organisation gitu ya sama aja, gue pengennya itu bukan ‘tujuan akhir’ gue. I’d like it to be “something that I’ve done in my lifetime - among other stuff” not “something that I’ve put all my life into - until I retire.” Ya kira-kira begitu. Lagian, gue rasa nyokap gue gak akan happy deh kalo tau anaknya bakal dikirim-kirim kerja ke India, ke Afrika, atau ke Brazil. Bahaya, katanya. Udah disekolahin mahal-mahal, jangan ambil kerja yang terlalu risky gitu ah, katanya lagi.
Padahal kalo dipikir-pikir persaingan dan hirarki karir kantoran itu risikonya juga ngeri, cuman beda settingan aja kan - kalo ngantor di agency ibu kota pan gak pake acara nyemen batako buat bangun sekolahan di desa terpencil di Kalkuta.
Not that I have anything against people who devoted their life to their career ya. Jujur, I dreamed about a life like that once - being a bona fide yuppie who owns a sleek apartment downtown. I still think those guys are awesome - and if it wasn’t for a dedicated female banker who happens to be my mother, I wouldn’t be here studying in London. Gue juga tetep suka liat a day in a lifenya orang kantoran, how they all get to wear suits and heels, going from one meeting to another, working from their blackberries. Hectic dan pastinya penuh intrik, tapi dynamic dan menarik. Ah yes, I guess I’m just a hardcore city girl (I’m not even sorry).
It’s just that, I don’t think I’d want to do that for 33 years - given that I’d start working by the time I’m 22 all the way until I reach 55. Not that I’d want to be a housewife and/or a stay at home mom either. Haha maunya apa sih?
Gue mau jadi penulis lepas. Tanpa jam kerja yang jelas, tanpa kantor yang jadi batas. Gue pengen tetep punya banyak waktu buat ngerjain hal-hal yang gue suka, seperti traveling, dateng ke film festival, nonton pertunjukan musik, main gitar seharian, bikin design dress, nongkrong di kedai kopi…
Hm.
Banyak hal yang gue suka dan gue mau, mungkin terlalu banyak. Mungkin. Inget banget taun lalu gue ngobrol sama temen nyokap tentang hal-hal yang gue demen itu, dan komentarnya dia seperti ini, “Kamu harus fokus. Kalo gak nanti jadinya gak jadi apa-apa kayak temen kita si (insert nama seniman/dalang jancuk di sini). Dia cerdas sekali tapi keinginannya terlalu banyak, makanya jadinya biasa-biasa aja.”
Hm. Waktu itu sih gue gak bales ngomong apa-apa. Mungkin karena agak shock dengernya. I mean, how can you judge someone as biasa-biasa aja when he actually has quite a reputation? Besides, si seniman ini nampaknya happy-happy aja dengan hidupnya.
Dari situ gue berpikir, well, pengertian ‘sukses’ itu memang subjektif ya. Dan sebenernya yang bikin capek itu karena kita sebagai manusia - sebagai anak dari orang tua yang pengen banget kita bikin bangga, sebagai murid dari para guru sekolah yang berharap banyak pada kita, sebagai makhluk yang seneng banget ngebandingin dirinya sama orang lain - secara sadar atau gak sadar selalu mencoba buat menyenangkan orang lain - kalo perlu sejuta umat deh - melalui kesuksesan kita. Semacam ajang pembuktian ke satu dunia, kalo we made it to the top. Secara gak langsung, kesuksesan kita kadang bikin orang lain insecure, vice versa (karena itu tadi sifat manusia yang suka banget ngebanding-bandingin). Akhirnya sih jadi kaya ada semacam lingkaran setan of insecurity gitu ya. Hm.
Sedihnya lagi, karena pada awalnya kesuksesan itu ditujukan biar orang lain bangga/kagum sama kita, seringkali malah kitanya sendiri yang merasa gak bangga, gak sukses, gak happy. Kenapa? Perhaps because deep down, we don’t really want to do it. Perhaps because it’s not really our goal. Perhaps it’s just not our definition of success.
You see, in my ngehe and sotoy opinion ye, success is however you define it, but if you define it wrong then you’ll never find it. Furthermore, ‘to succeed’ is different from ‘to achieve’, the former implies approval/acknowledgment from others whereas the latter simply means fulfilment - which I think, is more important.
Dan kembali ke topik family pressure soal rencana master dan karir gue, gue tau gue gak bisa buang waktu apalagi karena economy sekarang nampaknya mendukung sekali ‘premature culture: where the young rules and practically ‘no country for oldmen’ - ahaha sotoy maksimal lo nin! At 20, my time is coming (or has it come?) and I can’t think/wait/stop for too long, it seems. I guess it’s like, I have to know by now, despite ‘the bigger blessing of being young’. Nowadays, semua harus muda, harus fresh, lebih cepat lebih baik #terJK. Padahal kalo kata Ayu Utami - atau Dewi Lestari ya, gue lupa #fail, nevertheless I agree wholeheartedly - ada satu hal yang gak bisa dimampatkan melalui percepatan: kematangan. (No offence for young achievers!)
Untuk sekarang ini, jujur aja, gue belom punya definisi sukses. Mungkin karena buat gue lebih penting fulfilment itu tadi ya, gak tau juga, barangkali suatu hari nanti akhirnya gue bisa mendefinisikan sukses. Sepertinya sih gak akan mudah, tapi mudah-mudahanlah…
Kemaren salah satu flatmate gue, Windy, nanya ke gue dan si Matt tentang ambisi dan tujuan hidup masing-masing. Berat euy pertanyaannya haha. Anyway, it went like this,
Windy : What’s the purpose of your life? What do you want to achieve?
Matt : Uhm. I don’t think I have one. I just want a quiet life.
Me : Er. Happiness? Wait, no. Not happiness, contentment.
Matt : Ah, very nice.
Very nice indeed isn’t it? To be content with life. I don’t know what the world will bring and how time will change me, I just hope that it won’t be just another naive idealism of my youth. For the idea seems completely rational to me at this time.
“Sesungguhnya hidup mengalir bebas, tanpa batas. Tapi kemudian ada jadwal, dan kita tersengal-sengal.” - Gunawan Mohammad
Selamat malam, selalu selamat.