Cinta. Ah, siapa yang sanggup mencintaiku? Mungkin aku hanya sebatas gadis nyentrik yang lumayan menarik untuk dipermainkan.
Panggil aku Banyu Sukma. Seorang perempuan biasa yang gemar bertutur cerita pada siapa saja. Cerita yang akan kututurkan ini terpenggal di jantung hatiku. Ya, ya, cerita ini bernuansa cinta, seperti cerita-cerita pada umumnya.
Di sini gelap dan aku nyaris terlelap. Kuselami lautan selimut, bersiap menunggu mimpi yang berencana menjemput. Ini tengah malam, di luar temaram. Kemudian ada hening yang mencekam, membuat kepala pening lantaran syarafku diterkam. Sinting! Oh, rupanya kamu, Sang Pemadam Suram. Bayanganmu telah merayap ke dalam kalam yang hitam.
Izinkan aku menyebutmu Kirana Surya. Seperti laki-laki biasa yang tak banyak cakap, kamu juga diam. Tapi kamulah ilham, inspirasiku untuk meracap. Kamulah yang berhasil menembus pertahanan kalbu sampai akhirnya aku mengandung rindu yang tak terbendung, untuk kemudian melahirkan ratapan gundah yang penuh gulana prasangka.
Gulana prasangka. Cih, apa-apaan istilahnya. Tapi rasa-rasanya memang begitu. Rindu selalu saja seperti itu. Selalu penuh duga dan penuh curiga. “Adakah gelisah ini dirasanya jua?”
Memang benar kata temanku, namanya Nur Fajar, dia bilang “Malam adalah ketika ramai dikulum gelap. Segalanya disekap, diubah kelu, menjadi bisu. Yang ada hanya rindu menggebu pada sosok yang kerap ditunggu.”
Celakanya, memang kamulah si sosok itu. Yang kurindu, yang benar-benar aku tunggu. Kamulah yang sebenarnya aku tidak perlu, seperti halnya rokok yang tidak pernah kubutuhkan dalam hidupku. Akan tetapi sering kuinginkan sewaktu-waktu. Ya, kamu tak ubahnya seperti kudapan kesukaanmu itu.
Ini dini hari. Gagal sudah aku terlelap dalam fantasi. Yang ada aku siaga dalam menghadapi realita ini: ada dua jiwa dalam satu raga. Itu kamu. Seperti anak kembar yang bertolak belakang. Sementara sesosok dalam dirimu seolah bilang “Kejar aku, Sayang. Aku senang”, ada sosok lain yang tertawa lantang, “Kejar saja aku, Pecundang. Aku akan lari lebih kencang!” Begitu. Itulah dirimu.
Tapi aku sangsi kau mengerti perumpamaan ‘lari-lari’ tadi. Bagaimanapun, ada perbedaan mendasar di antara kita: aku pecinta kata, kamu pemuja logika. Ketika aku mempermainkan bahasa, kamu mengulik angka. Jadi sepertinya bahasa kita harus disamakan, kiasan itu harus kusederhanakan. Intinya, aku ingin bilang begini: pikiranmu adalah medali yang ingin kudapatkan, hatimu adalah trofi yang ingin kumenangkan, dengan segala cara perjuangan. Kamu adalah tantangan yang sungguh ingin kutaklukkan!
Ya, kuakui saja. Menjadi kekasihmu itu tidak mudah. Melainkan mudah-mudahan. (Ya, itu barusan aku melawak dengan anganku. Silakan kamu tertawa di atas harapanku!)
Kirana Surya, memikirkanmu kadang membosankan. Tapi selalu berkesan, walau tak beralasan. Seperti kopi yang tidak baik untuk kesehatan tetapi terus saja kumasukkan ke dalam badan. Ya, kamu juga seperti kopi. Ya, aku baru saja menyamakanmu dengan minuman kesukaanku. Selalu ada suatu perasaan kehilangan ketika aku sampai di tetes kopi terakhir, seperti halnya hampa yang terasa saat aku menutup pintu mobilmu sembari berkata, “Terima kasih, Kirana, sampai jumpa!”
Ya ampun! Baru kusadari, panjang juga aku berkisah asmara nestapa. Kalau Nur Fajar tahu, ia akan mencibirku begini, “Mau sampai kapan kamu merajuk dengan suntuk? Dia terlalu banyak alasan.” Ah ya, benar juga. Haruskah aku merajuk dengan suntuk? Kamu memang terlalu banyak alasan.
Alasanmu salah satunya kamu mengaku tidak peka. Kamu kira aku juga pandai membaca pertanda? Tidak juga. Sedangkan alasanmu yang utama, kamu pernah bilang, kamu memang belum mahir soal urusan cinta. Seolah-olah aku ini pecinta ulung. Padahal tahu apa aku soal cinta?
Apakah cinta hanya sebatas ucapan? Apakah cinta adalah kompromi yang disepakati? Apakah cinta itu pengorbanan? Apakah cinta merupakan pelampiasan nafsu? Apakah cinta alasan dari rindu yang berkepanjangan? Apakah cinta itu kasih sayang yang tak berkesudahan?
Aku tidak tahu. Dan aku ingin mencari tahu. Denganmu.
Lagi-lagi, Nur Fajar kawanku yang bijak pernah berangan, “Andai definisi cinta itu seperti udara –tulus menderma tanpa batas, tanpa balas.” Ya, kupikir-pikir sepertinya begitu. Kamu tahu aku, tidak mungkin aku memaksa. Kalau kamu tidak suka bilang saja. Paling yang patah hanya hatiku saja, tapi setidaknya otakku akan berhenti bertanya-tanya.
Ini sudah pagi. Bulan purnama sudah dikalahkan matahari. Mungkin kamu masih di rumah, memilih sepatu putih mana yang akan dipakai hari ini. Mungkin juga kamu sudah di jalan (mudah-mudahan) bebas hambatan, bergegas menuju universitas. Mungkin juga kamu sudah mengumpat soal aktivitasmu yang padat dan mengeluhkan rutinitas pelajaran yang membosankan. Mungkin saja. Satu hal yang pasti kamu tidak tahu, semalaman aku memikirkanmu sampai mantap, nyaris sarap.
Karena rindu selalu saja seperti itu, mengendap, tak terucap.
-
heyhenree likes this
-
alverinarafni likes this
-
sawthings likes this
-
moronicnemo likes this
-
nindysm posted this