Konon, kata adalah pedang yang lebih tajam dari belati. Mungkin memang ini senjata untuk menusuk jantung hati.
“Banyu buatkan aku puisi cinta,” pinta Lalita Anjali, sahabatku yang jelita dan senantiasa rapi jali. “Tentang cinta? Kenapa aku?”aku pura-pura tidak tahu. Padahal aku tahu pasti kenapa dia memintaku menulis puisi. Begini kisahnya,
Aku pernah,
berkeluh kesah
tentang kekasih.
Berdesah gelisah,
sampai pasrah
lalu kalah.
Ruhku telah
merintih perih
sampai tubuh
lantak luluh.
Kemudian jatuh,
terluka parah.
Aku salah,
hilang arah.
Menahan marah,
menyimpan perih
penuh jerih payah.
Kemudian bersauh,
lalu jauh.
Masih ada gemuruh,
belum hilang amarah,
semakin pedih,
menjadi keruh
perasaan rikuh
bertambah rapuh.
Mencari celah
di tengah riuh
untuk bersimpuh,
sambil bersumpah
aku pasti sembuh.
Ya, kira-kira begitulah.
Sepertinya sekarang si Lalita sedang jatuh cinta. Atau mungkin hanya aku yang berprasangka. Ah, tapi sepertinya memang iya. Tidak ada orang yang menyukai puisi dan permainan kata bila dia tidak sedang jatuh cinta, menurut pengalaman dan observasiku begitu. Kata-kata puitis tidak akan bermakna manis kalau hati tidak sedang dikuasai romansa.
Mengenai kata-kata puitis, tidak ada yang lebih mahir untuk menulisnya selain orang-orang yang sedang atau pernah menjudikan perasaannya dan konon, kaum-kaum yang pernah ditipu cinta (dalam hal ini, aku, Banyu Sukma), adalah yang paling mahir. Memang, ada yang pernah bilang kalau sesungguhnya orang-orang yang pandai menulis tentang cinta, biasanya kehidupan cintanya penuh air mata. Aku tidak tahu seberapa tepat maklumat itu, mungkin saja sangat meleset, tapi aku percaya akan pernyataan ini: penulis cenderung memiliki lika-liku asmara yang kompleks! Ha!
Sejujurnya, aku tidak sedang ingin menulis tentang cinta, asmara, romansa, dan hal-hal semacam itu. Menulisnya seperti membangkitkan kembali segala ‘angan’ yang tersimpan dalam ‘kenangan’. Tentang siapa lagi kalau bukan…Kirana Surya, si lelaki penuh teka-teki yang pernah menjadi bintang filosofiku.
Bisa jadi aku dan Kirana dulu itu seperti bintang, cahayanya saja yang masih terpancar dan tertangkap mataku, membuatku sibuk dalam angan sendiri, sembari tangan menulis rangkaian puisi. Padahal bintangnya sudah lama mati. Bintangnya sudah mati.
Ah ya, tapi ini kan bukan tentang aku ataupun Kirana. Ini tentang Lalita dan siapapun itu yang berhasil mencuri hatinya. Aku, tidak berkata banyak sebenarnya. Kecuali hati-hati.
Hati-hati bermain hati.
Lalai sedikit,
terlukai lalu sakit.
Bila sudah terlanjur tersakiti,
resapi sendiri,
sembari menunggu waktu tuk tanggulangi.
Menunggu, ya memang menunggu.
Seperti waktu dulu
menahan rindu.
Karena tidak mungkin memang,
mengikis karang
yang bersarang
di hatimu sekarang.
(Untuk sahabat SMA, Rafni Alverina, selamat ulang tahun :-*)
-
nindysm posted this