Lika-Liku Laki-Laki

Bahkan lelucon yang sama pun tak mungkin ditertawakan berkali-kali, lantas mengapa masih berduka atas kesedihan yang itu-itu saja?

Namanya Lukas. Lukas Ng - pemuda dengan darah oriental yang kental. Laki-laki baru dalam kehidupan Banyu Sukma. Kira-kira begitu. Bukan, Lukas bukan pengganti Kirana Surya karena untuk Banyu, arti seorang pengisi hati itu mustahil bisa disubstitusi. Memang betul, Kirana telah meninggalkan luka, tapi luka kan bukan hal yang mesti dilupakan. Justru akan lebih baik bila Banyu bisa mengingat Lukas saja, mengingat yang lebih penting.

Laki-laki bukan sensasi baru dan cerita ini agaknya masih sama seperti yang terdahulu, tentang hati Banyu yang tidak hati-hati, juga tentang perkara rindu yang membeku.

Lukas, laki-laki lugas, tangkas dan cerdas. Pemuda yang tak pernah ikut pramuka namun hidupnya sesuai dasadarma: hemat, cermat dan bersahaja. Seorang bujangan urban sekaligus musisi amatiran merangkap fotografer dadakan. Lukas pandai merangkai kata, sempat menjadi pemain sandiwara dan di balik kacamata tebalnya, dia sungguh sosok yang amat jenaka.

Lukas dan Banyu hanya teman biasa saja. Tidak lebih, tidak kurang. Sekedar kawan, bukan pujaan. Dekat tapi tidak erat.

Setidaknya awalnya begitu, karena yang terjadi selanjutnya sungguh di luar skenario Banyu.

Sampai saat ini semuanya masih teka-teki. Entah mengapa, kapan tepatnya dan bagaimana, yang jelas tiba-tiba musuh bebuyutan itu bergerilya kembali dalam diri Banyu. Mengendap-endap, menyergap saat tak siap lalu serangannya merambat dari kepala sampai dada, menjalar tanpa aba-aba. Perlahan tapi pasti, Lukas Ng menginvasi hati Banyu Sukma.

Kembali lagi malam panjang penuh lamunan. Bersua kembali Banyu dengan rindu tak beralasan.

Sekilas, Lukas ini mengingatkan Banyu akan Kirana. Keduanya sama-sama tenang dan gemar bertualang. Seperti Kirana, Lukas juga pintar memetik senar gitar, teliti dan senantiasa rapi jali. Bahkan sifat buruknya pun nyaris serupa, keduanya memiliki analisis kritis yang bisa menyebabkan krisis.

Lukas sama hebatnya seperti Kirana dalam urusan memanggil puisi-puisi Banyu untuk keluar dari sarang-sarangnya. Dan dengan kembalinya sajak mendayu-dayu, semuanya sudah jelas. Seperti yang pernah terjadi sebelumnya, Banyu Sukma lagi-lagi jatuh cinta. Semacam sakit jiwa.

Bedanya kali ini, hampir semua teman Banyu ikut jadi gila. “Lukas jelas lebih pantas,” kata Nur Fajar. Juga Lalita, Jingga, Andara dan Kalandra.

Memang berbeda dengan Kirana, Lukas bukan sosok seperti rokok yang sering diinginkan Banyu sewaktu-waktu, walaupun sebenarnya tidak perlu. Ia juga bukan seperti kopi yang tidak baik untuk kesehatan, meskipun tetap dimasukkan ke dalam badan.

Bersama Kirana, Banyu sekedar bertukar keluh, tanpa solusi penuh. Dengan Lukas segala yang rikuh ditukar nasihat teduh. Atau setidaknya, dengan senyuman dan rangkulan hangat yang cukup meruntuhkan kisruh.

Lukas jelas lebih pantas.

Baru sepuluh hari, sejak Lukas pergi. Kembali ke negeri kecilnya, yang berada di belahan dunia berbeda. Sepertinya dia baik-baik saja, walaupun menurut ceritanya, Lukas kerap menghitung mundur perbedaan zona waktu, sekedar untuk mereka-reka “sedang apa aku/mereka di sana?”

Jujur saja, diam-diam Banyu melakukan hal yang sama.

Ingin rasanya Banyu bilang, “Lukas, lekas pulang,” apa daya gengsi jadi penghalang. Dengan jarak yang menghadang, rindu ibarat luka yang meradang.

Terkekang.
Datang kembali saat untuk menunggu, untuk menyerah kepada waktu.

Blog comments powered by Disqus