Kita kemudian menyepi masing-masing. Mempertahankan gengsi, memilih untuk terasing.
Malam ini seperti malam-malam biasanya yang dihabiskan di meja belajar, menulis sambil ditemani pancaran sinar lampu halogen dan ‘alunan’ suara cooling fan. Ada secangkir kopi di sisi meja, dengan asapnya yang mengepul, memancarkan aroma harum khas Aceh Gayo. Terasa angin dingin bertiup dari arah jendela. Malam ini sempurna dan disertai inspirasi yang kian mengalir, penulis manapun pasti akan mensyukuri karunia sederhana semacam ini.
Banyu Sukma adalah sebagian dari mereka yang memuja kesendirian, yang menikmati malam-malam penuh kesunyian. Sepi, sepi dan sendiri, Banyu tidak benci. Ia memang memilih hening dibanding bising dan riuh. Alasannya sederhana saja, isi kepala Banyu sudah lebih bingar dari pasar, maka dari itu tak perlulah dia memecahkan gelas di sana-sini, hanya untuk mengaduh sampai gaduh.
Hiruk pikuk tidak termasuk ke dalam hal yang disukai Banyu, seperti halnya olah raga dan senam yoga. Banyu adalah sebagian dari mereka yang hanya akan duduk mengongkang kaki. Larut dalam lamunan pribadi di kepalanya yang hingar-bingar itu, di mana sudah berkali-kali dia lari ke hutan dan belok ke pantai. Mengejar kijang emas yang meloncat-loncat di pikirannya. Kijang emas bernama Lukas.
Ah, jadi ini rasanya menjadi Rangga dan Cinta di Ada Apa Dengan Cinta?.
Ah, Banyu seharusnya tidak menonton Gita Cinta dari SMA terlalu sering.
Tapi mungkin semua sudah terlambat, sudah tak terhitung berapa banyak sajak picisan yang dirangkai pikiran sembarangan milik Banyu Sukma. Baik itu puisi tentang Kirana Surya maupun Lukas Ng, sesungguhnya Banyu tak kurang mendayu-dayu bila dibandingkan dengan Rangga dan Galih.
Kata Titiek Puspa, jatuh cinta itu berjuta rasanya. Tapi menurut Banyu, jatuh cinta itu… klise. Namun bukan berarti biasa saja. Apabila jatuh cinta adalah sebuah penyakit, maka ia akan sangat mudah didiagnosa karena gejalanya pasti selalu sama pada setiap anak manusia. Umumnya semua diawali obsesi irasional, yang kemudian menjalar menjadi hasrat memiliki. Tahap yang terakhir ini biasanya yang paling ganas dan pasien perempuan banyak yang tidak tertolong. Ya, vonis jatuh cinta memang membawa efek samping yang berbeda pada pria dan wanita - dalam hal ini, pria cenderung lebih beruntung.
Seandainya Banyu bisa memutar waktu, dia akan kembali ke sekitar tahun 1900 untuk menemui Kartini - ya, sang Ibu Kartini. Ingin sekali Banyu menanyakan tentang cakupan emansipasi: mengapa seorang perempuan harus menunggu dihampiri lelaki?
Hm, tapi kalau dipikir-pikir, mungkin memang sudah menjadi kodrat perempuan untuk menunggu, untuk membisu menahan rindu. Bagaimanapun, alam telah menghendaki sel sperma untuk berpacu mengarah sel telur (yang diam pada tempatnya). Sudah sejatinya bagi lelaki untuk mendekati perempuan lebih dulu.
Maka dari itu tidak semestinya Banyu menyampaikan rindu kepada Lukas. Dengan demikian, yang bisa dilakukan Banyu adalah berdoa. Berdoa, dengan segala iman yang tersisa, yang sudah kececeran entah di mana saja. Berdoa, dengan keyakinan sekedarnya, untuk si dia yang begitu dicintai sepenuh hati, sebesar dosa. Berdoa, agar kelak tiba saatnya Lukas mengaku dia pun merindu Banyu.
Sampai hari itu tiba, sepertinya Banyu harus teguh memegang prinsip. Berserah kepada nasib. Nasib. Nasib adalah kesunyian masing-masing, begitu ujar Chairil Anwar.
Bahkan lelucon yang sama pun tak mungkin ditertawakan berkali-kali, lantas mengapa masih berduka atas kesedihan yang itu-itu saja?
Namanya Lukas. Lukas Ng - pemuda dengan darah oriental yang kental. Laki-laki baru dalam kehidupan Banyu Sukma. Kira-kira begitu. Bukan, Lukas bukan pengganti Kirana Surya karena untuk Banyu, arti seorang pengisi hati itu mustahil bisa disubstitusi. Memang betul, Kirana telah meninggalkan luka, tapi luka kan bukan hal yang mesti dilupakan. Justru akan lebih baik bila Banyu bisa mengingat Lukas saja, mengingat yang lebih penting.
Laki-laki bukan sensasi baru dan cerita ini agaknya masih sama seperti yang terdahulu, tentang hati Banyu yang tidak hati-hati, juga tentang perkara rindu yang membeku.
Lukas, laki-laki lugas, tangkas dan cerdas. Pemuda yang tak pernah ikut pramuka namun hidupnya sesuai dasadarma: hemat, cermat dan bersahaja. Seorang bujangan urban sekaligus musisi amatiran merangkap fotografer dadakan. Lukas pandai merangkai kata, sempat menjadi pemain sandiwara dan di balik kacamata tebalnya, dia sungguh sosok yang amat jenaka.
Lukas dan Banyu hanya teman biasa saja. Tidak lebih, tidak kurang. Sekedar kawan, bukan pujaan. Dekat tapi tidak erat.
Setidaknya awalnya begitu, karena yang terjadi selanjutnya sungguh di luar skenario Banyu.
Sampai saat ini semuanya masih teka-teki. Entah mengapa, kapan tepatnya dan bagaimana, yang jelas tiba-tiba musuh bebuyutan itu bergerilya kembali dalam diri Banyu. Mengendap-endap, menyergap saat tak siap lalu serangannya merambat dari kepala sampai dada, menjalar tanpa aba-aba. Perlahan tapi pasti, Lukas Ng menginvasi hati Banyu Sukma.
Kembali lagi malam panjang penuh lamunan. Bersua kembali Banyu dengan rindu tak beralasan.
Sekilas, Lukas ini mengingatkan Banyu akan Kirana. Keduanya sama-sama tenang dan gemar bertualang. Seperti Kirana, Lukas juga pintar memetik senar gitar, teliti dan senantiasa rapi jali. Bahkan sifat buruknya pun nyaris serupa, keduanya memiliki analisis kritis yang bisa menyebabkan krisis.
Lukas sama hebatnya seperti Kirana dalam urusan memanggil puisi-puisi Banyu untuk keluar dari sarang-sarangnya. Dan dengan kembalinya sajak mendayu-dayu, semuanya sudah jelas. Seperti yang pernah terjadi sebelumnya, Banyu Sukma lagi-lagi jatuh cinta. Semacam sakit jiwa.
Bedanya kali ini, hampir semua teman Banyu ikut jadi gila. “Lukas jelas lebih pantas,” kata Nur Fajar. Juga Lalita, Jingga, Andara dan Kalandra.
Memang berbeda dengan Kirana, Lukas bukan sosok seperti rokok yang sering diinginkan Banyu sewaktu-waktu, walaupun sebenarnya tidak perlu. Ia juga bukan seperti kopi yang tidak baik untuk kesehatan, meskipun tetap dimasukkan ke dalam badan.
Bersama Kirana, Banyu sekedar bertukar keluh, tanpa solusi penuh. Dengan Lukas segala yang rikuh ditukar nasihat teduh. Atau setidaknya, dengan senyuman dan rangkulan hangat yang cukup meruntuhkan kisruh.
Lukas jelas lebih pantas.
Baru sepuluh hari, sejak Lukas pergi. Kembali ke negeri kecilnya, yang berada di belahan dunia berbeda. Sepertinya dia baik-baik saja, walaupun menurut ceritanya, Lukas kerap menghitung mundur perbedaan zona waktu, sekedar untuk mereka-reka “sedang apa aku/mereka di sana?”
Jujur saja, diam-diam Banyu melakukan hal yang sama.
Ingin rasanya Banyu bilang, “Lukas, lekas pulang,” apa daya gengsi jadi penghalang. Dengan jarak yang menghadang, rindu ibarat luka yang meradang.
Terkekang.
Datang kembali saat untuk menunggu, untuk menyerah kepada waktu.
Konon, kata adalah pedang yang lebih tajam dari belati. Mungkin memang ini senjata untuk menusuk jantung hati.
“Banyu buatkan aku puisi cinta,” pinta Lalita Anjali, sahabatku yang jelita dan senantiasa rapi jali. “Tentang cinta? Kenapa aku?”aku pura-pura tidak tahu. Padahal aku tahu pasti kenapa dia memintaku menulis puisi. Begini kisahnya,
Aku pernah,
berkeluh kesah
tentang kekasih.
Berdesah gelisah,
sampai pasrah
lalu kalah.
Ruhku telah
merintih perih
sampai tubuh
lantak luluh.
Kemudian jatuh,
terluka parah.
Aku salah,
hilang arah.
Menahan marah,
menyimpan perih
penuh jerih payah.
Kemudian bersauh,
lalu jauh.
Masih ada gemuruh,
belum hilang amarah,
semakin pedih,
menjadi keruh
perasaan rikuh
bertambah rapuh.
Mencari celah
di tengah riuh
untuk bersimpuh,
sambil bersumpah
aku pasti sembuh.
Ya, kira-kira begitulah.
Sepertinya sekarang si Lalita sedang jatuh cinta. Atau mungkin hanya aku yang berprasangka. Ah, tapi sepertinya memang iya. Tidak ada orang yang menyukai puisi dan permainan kata bila dia tidak sedang jatuh cinta, menurut pengalaman dan observasiku begitu. Kata-kata puitis tidak akan bermakna manis kalau hati tidak sedang dikuasai romansa.
Mengenai kata-kata puitis, tidak ada yang lebih mahir untuk menulisnya selain orang-orang yang sedang atau pernah menjudikan perasaannya dan konon, kaum-kaum yang pernah ditipu cinta (dalam hal ini, aku, Banyu Sukma), adalah yang paling mahir. Memang, ada yang pernah bilang kalau sesungguhnya orang-orang yang pandai menulis tentang cinta, biasanya kehidupan cintanya penuh air mata. Aku tidak tahu seberapa tepat maklumat itu, mungkin saja sangat meleset, tapi aku percaya akan pernyataan ini: penulis cenderung memiliki lika-liku asmara yang kompleks! Ha!
Sejujurnya, aku tidak sedang ingin menulis tentang cinta, asmara, romansa, dan hal-hal semacam itu. Menulisnya seperti membangkitkan kembali segala ‘angan’ yang tersimpan dalam ‘kenangan’. Tentang siapa lagi kalau bukan…Kirana Surya, si lelaki penuh teka-teki yang pernah menjadi bintang filosofiku.
Bisa jadi aku dan Kirana dulu itu seperti bintang, cahayanya saja yang masih terpancar dan tertangkap mataku, membuatku sibuk dalam angan sendiri, sembari tangan menulis rangkaian puisi. Padahal bintangnya sudah lama mati. Bintangnya sudah mati.
Ah ya, tapi ini kan bukan tentang aku ataupun Kirana. Ini tentang Lalita dan siapapun itu yang berhasil mencuri hatinya. Aku, tidak berkata banyak sebenarnya. Kecuali hati-hati.
Hati-hati bermain hati.
Lalai sedikit,
terlukai lalu sakit.
Bila sudah terlanjur tersakiti,
resapi sendiri,
sembari menunggu waktu tuk tanggulangi.
Menunggu, ya memang menunggu.
Seperti waktu dulu
menahan rindu.
Karena tidak mungkin memang,
mengikis karang
yang bersarang
di hatimu sekarang.
(Untuk sahabat SMA, Rafni Alverina, selamat ulang tahun :-*)
Cinta. Ah, siapa yang sanggup mencintaiku? Mungkin aku hanya sebatas gadis nyentrik yang lumayan menarik untuk dipermainkan.
Panggil aku Banyu Sukma. Seorang perempuan biasa yang gemar bertutur cerita pada siapa saja. Cerita yang akan kututurkan ini terpenggal di jantung hatiku. Ya, ya, cerita ini bernuansa cinta, seperti cerita-cerita pada umumnya.
Di sini gelap dan aku nyaris terlelap. Kuselami lautan selimut, bersiap menunggu mimpi yang berencana menjemput. Ini tengah malam, di luar temaram. Kemudian ada hening yang mencekam, membuat kepala pening lantaran syarafku diterkam. Sinting! Oh, rupanya kamu, Sang Pemadam Suram. Bayanganmu telah merayap ke dalam kalam yang hitam.
Izinkan aku menyebutmu Kirana Surya. Seperti laki-laki biasa yang tak banyak cakap, kamu juga diam. Tapi kamulah ilham, inspirasiku untuk meracap. Kamulah yang berhasil menembus pertahanan kalbu sampai akhirnya aku mengandung rindu yang tak terbendung, untuk kemudian melahirkan ratapan gundah yang penuh gulana prasangka.
Gulana prasangka. Cih, apa-apaan istilahnya. Tapi rasa-rasanya memang begitu. Rindu selalu saja seperti itu. Selalu penuh duga dan penuh curiga. “Adakah gelisah ini dirasanya jua?”
Memang benar kata temanku, namanya Nur Fajar, dia bilang “Malam adalah ketika ramai dikulum gelap. Segalanya disekap, diubah kelu, menjadi bisu. Yang ada hanya rindu menggebu pada sosok yang kerap ditunggu.”
Celakanya, memang kamulah si sosok itu. Yang kurindu, yang benar-benar aku tunggu. Kamulah yang sebenarnya aku tidak perlu, seperti halnya rokok yang tidak pernah kubutuhkan dalam hidupku. Akan tetapi sering kuinginkan sewaktu-waktu. Ya, kamu tak ubahnya seperti kudapan kesukaanmu itu.
Ini dini hari. Gagal sudah aku terlelap dalam fantasi. Yang ada aku siaga dalam menghadapi realita ini: ada dua jiwa dalam satu raga. Itu kamu. Seperti anak kembar yang bertolak belakang. Sementara sesosok dalam dirimu seolah bilang “Kejar aku, Sayang. Aku senang”, ada sosok lain yang tertawa lantang, “Kejar saja aku, Pecundang. Aku akan lari lebih kencang!” Begitu. Itulah dirimu.
Tapi aku sangsi kau mengerti perumpamaan ‘lari-lari’ tadi. Bagaimanapun, ada perbedaan mendasar di antara kita: aku pecinta kata, kamu pemuja logika. Ketika aku mempermainkan bahasa, kamu mengulik angka. Jadi sepertinya bahasa kita harus disamakan, kiasan itu harus kusederhanakan. Intinya, aku ingin bilang begini: pikiranmu adalah medali yang ingin kudapatkan, hatimu adalah trofi yang ingin kumenangkan, dengan segala cara perjuangan. Kamu adalah tantangan yang sungguh ingin kutaklukkan!
Ya, kuakui saja. Menjadi kekasihmu itu tidak mudah. Melainkan mudah-mudahan. (Ya, itu barusan aku melawak dengan anganku. Silakan kamu tertawa di atas harapanku!)
Kirana Surya, memikirkanmu kadang membosankan. Tapi selalu berkesan, walau tak beralasan. Seperti kopi yang tidak baik untuk kesehatan tetapi terus saja kumasukkan ke dalam badan. Ya, kamu juga seperti kopi. Ya, aku baru saja menyamakanmu dengan minuman kesukaanku. Selalu ada suatu perasaan kehilangan ketika aku sampai di tetes kopi terakhir, seperti halnya hampa yang terasa saat aku menutup pintu mobilmu sembari berkata, “Terima kasih, Kirana, sampai jumpa!”
Ya ampun! Baru kusadari, panjang juga aku berkisah asmara nestapa. Kalau Nur Fajar tahu, ia akan mencibirku begini, “Mau sampai kapan kamu merajuk dengan suntuk? Dia terlalu banyak alasan.” Ah ya, benar juga. Haruskah aku merajuk dengan suntuk? Kamu memang terlalu banyak alasan.
Alasanmu salah satunya kamu mengaku tidak peka. Kamu kira aku juga pandai membaca pertanda? Tidak juga. Sedangkan alasanmu yang utama, kamu pernah bilang, kamu memang belum mahir soal urusan cinta. Seolah-olah aku ini pecinta ulung. Padahal tahu apa aku soal cinta?
Apakah cinta hanya sebatas ucapan? Apakah cinta adalah kompromi yang disepakati? Apakah cinta itu pengorbanan? Apakah cinta merupakan pelampiasan nafsu? Apakah cinta alasan dari rindu yang berkepanjangan? Apakah cinta itu kasih sayang yang tak berkesudahan?
Aku tidak tahu. Dan aku ingin mencari tahu. Denganmu.
Lagi-lagi, Nur Fajar kawanku yang bijak pernah berangan, “Andai definisi cinta itu seperti udara –tulus menderma tanpa batas, tanpa balas.” Ya, kupikir-pikir sepertinya begitu. Kamu tahu aku, tidak mungkin aku memaksa. Kalau kamu tidak suka bilang saja. Paling yang patah hanya hatiku saja, tapi setidaknya otakku akan berhenti bertanya-tanya.
Ini sudah pagi. Bulan purnama sudah dikalahkan matahari. Mungkin kamu masih di rumah, memilih sepatu putih mana yang akan dipakai hari ini. Mungkin juga kamu sudah di jalan (mudah-mudahan) bebas hambatan, bergegas menuju universitas. Mungkin juga kamu sudah mengumpat soal aktivitasmu yang padat dan mengeluhkan rutinitas pelajaran yang membosankan. Mungkin saja. Satu hal yang pasti kamu tidak tahu, semalaman aku memikirkanmu sampai mantap, nyaris sarap.
Karena rindu selalu saja seperti itu, mengendap, tak terucap.