“Seorang filsuf Yunani pernah menulis…nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda” – Soe Hok Gie
Satu hal yang pasti, aku sudah terlanjur dilahirkan. Perkara aku nanti akan mati muda dengan bahagia atau merana sampai tua itu urusan lain. Yang jelas sekarang saja aku sudah merasa sial karena terlanjur lahir ke dunia tanpa diberi hak untuk memilih siapa yang akan menjadi orang tua.
Izinkan aku untuk menceritakan tentang bajingan paling brengsek yang pernah aku temui dalam hidupku. Bandot tua yang hari ini kebetulan sedang berulang tahun. Laki-laki sialan yang darahnya mengalir di nadiku. Bapakku.
Iya, Bapakku. Mungkin kau pernah dengar tentang dia. Maklum, dia cukup tersohor. Namanya Indonesia.
In-do-ne-sia?
Bukannya itu nama wanita? Tidakkah kata itu membuatmu membayangkan sosok seorang wanita idaman, istri unggulan dan ibu jempolan? Kau salah, kawan. Rasa-rasanya tidak mungkin seorang ibu bisa jadi sedemikian brengsek seperti Bapakku. Lagipula, kalaupun nama ‘Indonesia’ terdengar feminin, mungkin satu-satunya bentuk femininitas di sosok Bapak adalah sikapnya yang banci.
Ah iya, aku tau apa yang kau pikirkan. Kurang ajar betul anak ini, bapaknya sendiri dicaci maki. Ya, mungkin aku memang anak yang kurang ajar dan kekurangajaranku ini bisa kujelaskan. Aku ini kan darah daging Bapak yang brengsek, bukankah air cucuran atap jatuh tak jauh dari pelimbahan?
Sudahlah, tidak penting aku kurang ajar atau tidak. Aku kan mau berkisah tentang Bapakku.
Pernah nonton film Catatan Si Boy? Kalau iya, kau mungkin bisa membayangkan sosok Bapakku, Indonesia, seperti apa.
Waktu muda dulu, dia tampan dan gagah. Badannya besar dan sungguh, ia pemuda yang bugar. Dia juga kaya raya, bisa dibilang raja minyak walaupun emas dan berlian dia juga punya banyak. Yang jelas, untuk urusan raga dan harta, Bapak tidak perlu diragukan, ia punya semua yang orang lain inginkan. Untuk segi jiwa, Bapak juga masih bisa dibanggakan. Dia pemberani, pernah sekali waktu ia memimpin perjuangan kaum-kaum yang tertindas, memerdekakan mereka. Dia juga pandai, sebagai bukti, banyak anak-anaknya –saudara-saudariku– yang sekarang juara pertandingan-pertandingan ilmu eksakta. Waktu muda dulu, Bapak seorang humanis yang percaya bahwa tiap-tiap orang berhak meniti jalannya masing-masing untuk mencari satu Tuhan.
Akan tetapi, tidak ada gading yang tak retak bukan? Lagipula, pernahkah kau mendengar pepatah yang mengatakan bahwa kecantikan adalah kutukan? Atau mungkin, justru inilah yang namanya roda kehidupan, salah satu pembuktian keadilan Tuhan.
Seiring pergantian tahun, Bapak berubah. Sosok seorang Indonesia kini jauh berbeda dari sosok Indonesia dulu dan dari tiga pernyataan di atas, aku tidak tau yang mana yang harus aku yakini sebagai alasan perubahan Bapak. Yang aku tau, perubahan adalah satu-satunya kepastian yang ada di dunia ini. Aku hanya tidak habis pikir Bapak akan menjadi seperti ini. Menjadi sebrengsek ini.
Mungkin akhirnya karena semakin tua, Bapak semakin enggan untuk berpacu seiring perubahan zaman. Atau bisa jadi dia sebenarnya hendak memberi kebebasan kepada anak-anaknya -saudara-saudari tuaku- untuk mengatur segala rupa kekayaannya. Anak-anaknya yang mungkin lupa dia ajari tentang sikap ksatria. Anak-anaknya yang ia didik dalam gelimangan harta berlimpah sampai akhirnya menjadi manusia-manusia pongah dan serakah.
Mungkin Bapak tidak menyangka kebebasan yang dulu ia berikan akan disalahgunakan, mungkin ia kecewa, tidak tahu harus berbuat apa dan akhirnya diam saja. Bapak seperti kehilangan karisma dan perlahan kalah ditelan gelombang kehidupan. Kekayaannya lama-lama habis. Ya dicuri, ya dipakai membayar hutang, ya dihambur-hamburkan. Aku jadi sangsi kalau nanti sewaktu-waktu Bapak mati, akankah tersisa harta warisan?
Kalaupun ada yang tersisa, aku sudah ngeri membayangkan perebutan warisan itu oleh anak-anaknya, tetangga-tetangganya dan bukan mustahil seandainya kerabat jauh akan ikut menjarah!
Tolong jangan salah sangka. Aku membenci Bapak, mencibirnya sebagai laki-laki brengsek, menyebutnya bajingan, bukan karena sekarang ia seorang pesakitan yang serba kekurangan. Melainkan karena ia kehilangan prinsip, kehabisan mimpi dan juga ambisi. Lalu lari dari kenyataan pahit dengan mengungkit-ungkit kisah kejayaan sebelum pailit. Sungguh mengecewakan dan tidak bisa dibanggakan!
Prinsipnya tentang kemanusiaan yang adil dan beradab ada di mana sekarang? Tega-teganya menukar keadilan dengan uang. Apa kabarnya pendapat Bapak mengenai persatuan? Ia diam saja melihat perpecahan anak-anaknya yang disebabkan oleh perbedaan tata cara penyembahan Tuhan. Bagaimana dengan nasehat yang dulu pernah ia sampaikan, tentang pentingnya kejujuran dan keberanian yang berlandaskan kebenaran? Bapak bahkan tidak berani menegur orang-orang yang berbuat salah dan hanya bisa menyampaikan basa-basi rasa kasihan kepada korban-korban ketidakadilan. Banci! Laki-laki macam apa yang bisa melupakan prinsip-prinsipnya sendiri? Bagaimana ia bisa memimpin keluarga kami kalau dia sendiri tidak punya visi dan misi?
Aku membenci Bapak karena ia bergeming di kala satu keluarga pontang-panting agar keluarga kami tetap terlihat hebat dan bermartabat. Aku membenci Bapak karena ia sering membuatku malu tiap kali aku mengaku “Aku anak Indonesia”, membuatku merasa kecewa karena secara tidak langsung telah membeberkan kepada dunia tentang keluargaku yang porak poranda hanya dengan tiga kata.
Aku membenci Bapak karena ia tidak memberiku pilihan selain untuk tetap menghormatinya. Begitulah.
Sebenci-bencinya aku pada Bapak, sebajingan-bajingannya dia, Indonesia adalah Bapakku. Aku bisa saja berlari ke ujung dunia, akan tetapi itu tidak akan merombak fakta bahwa selamanya aku anaknya. Suka atau tidak, jantungku memompa darahnya dan lidahku akan menyebut namanya. Aku adalah anak Bapak dan Bapak adalah ayahku. Tidak ada yang bisa mengubah kenyataan itu.
Dan di balik seluruh ungkapan kebencian yang ingin aku lontarkan kepada Bapak, ada satu bisikan dalam hatiku yang mengatakan bahwa seharusnya aku berterima kasih kepada Bapakku, si Brengsek.
Seharusnya aku berterima kasih karena ia telah merawatku hingga dewasa, walaupun hanya sekedarnya. Seharusnya aku berterima kasih karena ia telah memperbolehkanku untuk menggunakan kekayaannya, walaupun tidak semua. Seharusnya aku berterima kasih karena ia mengajarkanku tentang idealisme kehidupan, walaupun pada akhirnya tidak semua ia jalankan.
Seharusnya aku berterima kasih karena ia bajingan, setidaknya itu mengajarkanku tentang kenyataan bahwa dalam kehidupan tidak selalu semua berjalan sesuai rencana yang diinginkan maupun prinsip yang diajarkan.
Seharusnya aku berterima kasih karena hidupku dalam asuhannya penuh keterbatasan, setidaknya sekarang aku tahu bahwa hidup harus diperjuangkan demi mengejar kebahagiaan.
Begitu kata hatiku.
Ah sudahlah. Rasa-rasanya kejayaan masa lalu sudah mustahil untuk dikembalikan, tak peduli seberapa tinggi doa aku panjatkan. Pun aku tidak bisa menjamin berapa lama Bapak sanggup bertahan dengan kondisi yang sudah sedemikian memprihatinkan. Kalaupun tiba waktunya nanti Bapak dipanggil oleh Sang Khalik, aku hanya bisa berharap dia akan dikenang untuk seluruh jasanya yang baik.
Sampai hari itu tiba, aku tidak akan menyangkal bukti nyata bahwa “Aku anak Indonesia”.
(Selamat ulang tahun yang ke-66 untuk Indonesia, yang aku cinta dengan lara, yang aku kasihi hingga nanti nadi berhenti.)
Foto: Firdaus Usman