semacam soneta

maaf,
bukan maaf yang paling sulit tuk diucapkan.
melainkan rindu.

semisalnya itu kukatakan padamu,
kemungkinan besar kau akan angkat kaki.
segera pergi.

kerap aku mengeluhkan,
kita yang terlampau dekat.
dan sedikit friksi tentu akan menimbulkan api.

kau,
segalanya di luar rencana semula.
seharusnya bukan kau.

dan sekarang gejolak ini
tak kunjung juga berhenti.

A Rhoma Therapy

Aromatherapy helps people to sleep early. Whilst A Rhoma Therapy, “Begadang jangan begadaaang, kalau tiada artinyaaa…” -@Ari_Pt

(btw, panggilan kepada @sissyssy, @cintaadita dan sandyverden, kayaknya ini bisa menjawab request-an kalian di ask nindy, tentang postingan lawak-lawakan, ayu tingting dan kehidupan anak kuliah)

heeey, jamaaah, oy!

ya, seperti yang sudah bisa ditebak kali ya, postingan ini ditulis di kala gue seharusnya tidur. ah, tapi tidur itu susah ya. kalo disuruh memilih antara susahan mana, tidur apa cari pacar, gue gak yakin mana yang lebih susah. oh ya, berhubung koordinasi otak, mata, dan jari jemari juga sebenernya agak patut dipertanyakan, jadi harap maklum ya kalo misalnya banyak ke-absurd-an, per-typo-an, dan ketidaksempurnaan. bagaimanapun kan, kesempurnaan sesungguhnya hanya milih aloh. #eaaa

hohemji, sebenernya capek banget, tapi masih terlalu semangat buat tidur. oh my god. oh my god. (eh ngomong-ngomong, seandainya atheis, dia nyebut OMG itu mungkin OYG kali ya, oh your god. gitu…. #kemudianhening)

eniweh ya, biarpun itungannya udah masuk senen, tapi karena gue belum tidur, masih sahih lah ya kalo dianggap ini weekend (oke, maksa ya? oke, fine). dan biasalah, kalo weekend kan, biasanya ekspektasinya begini:
menikmati gemerlap kehidupan malam….
partying partying high high, i’m so high fly fly, up in the sky…

tapi realitynya sesungguhnya begini:
#LemburUnite di library
pacaran sama kerjaan

aih sedap nindy.

sebenernya sih gue nugas bukan karena rajin sih, percayalah, se-nerdy-nerdy-nya gue dan sesuka-sukanya gue sama belajar, gue selalu berusaha untuk meliburkan diri di weekend, sesuai anjuran alkitab…beristirahatlah di hari sabat kan. tapi kali ini gue nugas karena…..bentar lagi liburan natal dan gue bakal pulang ke jekardah metropolitan mamen! dan demi mengejar liburan yang tentram, disertai dengan harapan agar menyundul nilai hingga pertamax, gue pun ngerjain tugas di malem minggu dan minggu malem.

oh kuliah, oh kuliah.

katanya yah, gue denger-denger dari berbagai opini masyarakat dan khalayak luas, itu kalo mahasiswi, jomblo, yang malem mingguannya ngerjain tugas tuh pesonanya/kecantikannya, bertambah sampe 99.96% loh! alhamdulillah yah sesuatu banget gak sih?! yaa, tapi biar dikata pesonanya nambah kek, jomblonya sih tetep.

haha. krik krik.

hm, duh kesannya kok gue gak punya pacar aja desperate banget sih. padal sebenernya sih biasa aja. malah sekarang lagi gak pengen punya, karena gue lagi mengejar pemecahan rekor di valentine’s day 2012, rekor ini nih: alone in valentine’s day for 20 YEARS IN A ROW!! wiiiiiiiiii :D #ForeverAlone

eh tapi kenapa ya, kok kayak ada ekspektasi tertentu gitu kalo udah mahasiswa/i itu diharapkan/dianjurkan/dihimbau biar punya pacar? gue jadi heran. sebenernya niat kuliah orang-orang itu cari ilmu apa cari jodoh sih? #eaaa #aihkritissekalinindy

lagian buat apa pacaran sih kalo masih ngegalau mulu di twitter? #pfft #larilarikecil
lagian buat apa pacaran sih kalo toh ‘Habis Tante Terbitlah Ting-Ting’? #EAAA #edisiRafiAhmad #maafkanakuIbuKartini
lagian buat apa pacaran sih kalo gak berpengaruh sama penjualan album?#TerAnangdanAshanty

#kemudianhening

gosh. ini postingan ngalor ngidul kemana-mana….oh kemanaaa #TerTingTing

aduh, ngomong-ngomong tentang aku-kamu pikir pikir (I-U Think-Think), itu mbak-mbak sekarang apa kabarnya ya, perasaan gak kedengeran lagi sejak pacaran sama rapi amat. dan sebenernya dia itu siapa sih? kok bisa mendadak beken dah. gak ngerti di mana logika hatiku jatuh cinta kepadanya nyanyi lagu tentang menjadi troll victim dari alamat palsu bisa jadi beken.

sama gak ngertinya sama kenapa lagu ayo kita goyang gayung bisa jadi happening banget. ada apa dengan perdangdutan nusantara yang dipenuhi ajakan tidur padal baru kenal dan hamil duluan (ya abis sih, baru kenal aja udah mau diajak tidur -__-)? aduh, kalo bang rhoma sih udah pasti bilang ter-la-lu ya, kalo dia dengerin dangdut masa kini. dan coba, bayangin apa nanti kata meggy z kalo seandainya dia idup lagi? pasti dia cuma bisa bilang “sungguh teganya-teganya-teganya-teganyaaaa”. dear, penyanyi dangdut masa kini, buatlah lagu dengan tema lain selain berbadan dua.

ngomong-ngomong, lala karmela itu siapa ya? penyanyi dangdut juga ya? abis namanya koplo pantura banget.

eiz, perdangdutan oh perdangdutan.

baiklah, seiring dengan bertambahnya kadar keabsurdan postingan ini, i think i should stop. good night, good people! ingatlah, kesuksesan pergaulan tidak dijamin oleh kesuksesan anda dalam menggauli atau digauli.

Sekedar Permainan Kata

Konon, kata adalah pedang yang lebih tajam dari belati. Mungkin memang ini senjata untuk menusuk jantung hati.

“Banyu buatkan aku puisi cinta,” pinta Lalita Anjali, sahabatku yang jelita dan senantiasa rapi jali. “Tentang cinta? Kenapa aku?”aku pura-pura tidak tahu. Padahal aku tahu pasti kenapa dia memintaku menulis puisi. Begini kisahnya,

Aku pernah,
berkeluh kesah
tentang kekasih.

Berdesah gelisah,
sampai pasrah
lalu kalah.

Ruhku telah
merintih perih
sampai tubuh
lantak luluh.

Kemudian jatuh,
terluka parah.

Aku salah,
hilang arah.

Menahan marah,
menyimpan perih
penuh jerih payah.

Kemudian bersauh,
lalu jauh.

Masih ada gemuruh,
belum hilang amarah,
semakin pedih,
menjadi keruh
perasaan rikuh
bertambah rapuh.

Mencari celah
di tengah riuh
untuk bersimpuh,
sambil bersumpah
aku pasti sembuh.

Ya, kira-kira begitulah.

Sepertinya sekarang si Lalita sedang jatuh cinta. Atau mungkin hanya aku yang berprasangka. Ah, tapi sepertinya memang iya. Tidak ada orang yang menyukai puisi dan permainan kata bila dia tidak sedang jatuh cinta, menurut pengalaman dan observasiku begitu. Kata-kata puitis tidak akan bermakna manis kalau hati tidak sedang dikuasai romansa.

Mengenai kata-kata puitis, tidak ada yang lebih mahir untuk menulisnya selain orang-orang yang sedang atau pernah menjudikan perasaannya dan konon, kaum-kaum yang pernah ditipu cinta (dalam hal ini, aku, Banyu Sukma), adalah yang paling mahir. Memang, ada yang pernah bilang kalau sesungguhnya orang-orang yang pandai menulis tentang cinta, biasanya kehidupan cintanya penuh air mata. Aku tidak tahu seberapa tepat maklumat itu, mungkin saja sangat meleset, tapi aku percaya akan pernyataan ini: penulis cenderung memiliki lika-liku asmara yang kompleks! Ha!

Sejujurnya, aku tidak sedang ingin menulis tentang cinta, asmara, romansa, dan hal-hal semacam itu. Menulisnya seperti membangkitkan kembali segala ‘angan’ yang tersimpan dalam ‘kenangan’. Tentang siapa lagi kalau bukan…Kirana Surya, si lelaki penuh teka-teki yang pernah menjadi bintang filosofiku.

Bisa jadi aku dan Kirana dulu itu seperti bintang, cahayanya saja yang masih terpancar dan tertangkap mataku, membuatku sibuk dalam angan sendiri, sembari tangan menulis rangkaian puisi. Padahal bintangnya sudah lama mati. Bintangnya sudah mati.

Ah ya, tapi ini kan bukan tentang aku ataupun Kirana. Ini tentang Lalita dan siapapun itu yang berhasil mencuri hatinya. Aku, tidak berkata banyak sebenarnya. Kecuali hati-hati.

Hati-hati bermain hati.
Lalai sedikit,
terlukai lalu sakit.

Bila sudah terlanjur tersakiti,
resapi sendiri,
sembari menunggu waktu tuk tanggulangi.

Menunggu, ya memang menunggu.
Seperti waktu dulu
menahan rindu.

Karena tidak mungkin memang,
mengikis karang
yang bersarang
di hatimu sekarang.

(Untuk sahabat SMA, Rafni Alverina, selamat ulang tahun :-*)

enam jam untuk selamanya

tantangan #asknindy dari @ilhamshiddiq, penggemarku yang hobinya menindas idolanya. jadi ceritanya tantangannya gini,

hm. oke, fine. challenge accepted.

hmm. gimana ya?

enam jam tu kayanya ga mungkin deh. (hampir) enam taun aja gak dapet. #EAAA #curcol

unless,…enam jam yang dimaksud ini enam jam dalam proses penembakan. eh ngomong-ngomong penembakan, kenapa ya namanya penembakan? apa karena relationship itu seperti medan perang? di mana semua-semua harus ada strateginya, harus diperhitungkan biar bisa menang (apa juga yang dimenangkan di sini? ego pribadi? cintanya sang pujaan hati? #azeek) kalo misalnya iya, mungkin ‘penembakan’ itu ibarat di film-film perang, si jendralnya teriak “ATTACKKKK” atau “THIS IS SPARTAAAA” gitu kali ya, jadi ibaratnya dengan ditembak itu hati kita diserang, dengan harapan bakal “nyerang balik” (diterima) dan ‘perang’ pun resmi dimulai.

tsaaaah…analoginya qaqaaa.

anyway, going back to ‘enam jam’… mungkin tips-tips ini adalah cara paling tepat untuk menembak cewek dalam enam jam. yes, you read it right, “cara menembak cewek”. i write it this way, cos i’m not sure how it’ll work on a guy, but this surely works on a girl. or at least, it’ll work for me. hahaha.

oke, so tanpa banyak cing-cong, here it is…

HOW TO GET A GIRLFRIEND IN SIX HOURS*:
*terms and conditions applied

so the basic ideas is to take her around town and go on an adventure, really. BITCHES LOVE ADVENTURE. you can take her with your own car/motorcycle, but perhaps it’ll be more fun if you guys go on different transportations (you can ride in your car, when you pick her up at her place and then park your car somewhere and hit it off…). oh yes, it really needs an effort and creativity, but well, if you like that girl so much and she means the world to you, then why not, eh? BITCHES LOVE EFFORTS.

can’t really break it down on the activities to do in each hour, but here are some ideas of ‘adventure’:
- have a progressive meals. BITCHES LOVE EATING. by this, i mean going out on different restaurants/cafes/street meals, warung, etc…order just one thing from each place. for example, order just the appetizer in one warung, have main course in another, dessert in one cafe, etc. make sure the food’s good in those places though, don’t just take her to a random place that you’ve never even been there. another alternative, take her to eating spots with good ambience/interior/view, etc.

- amazing race. this really needs an effort, an a little help from some friends. so you ask your friends to stand by in various spots, and just like what they do in the tv shows, you both have to finish a challenge in order to proceed. by the end of the game, it should be a very cool spot in your town/or a very awesomely romantic cafes or her/your favourite place and you know what to do next…

- the enlightenment. works if she’s into art and intellectual stuff. go visit the artistic/historical places in your city. take her to a flea market, looking for old books or classic movies. then to a gallery, then take her to watch a theater or a performance to end the night and ‘pop’ the question.

- think of it yourself, what would suit you both.

*this only works if you and the girl are adventurous, easy-going people. cos if not, then it can really turn into a disaster, especially if she’s a “high-maintainance” lady who complains a lot :))))
*this only works if you know each other for some time. that way, you’ll be comfortable being around each other for…practically a whole day.

kayanya segitu doang deh yang baru gue pikirin. yes, yes, i know…ini tidak menjawab pertanyaannya secara langsung sih, not to mention sooo idealistic and hopelessly romantic yaa hahaha. maklumlah, haven’t had to think about date ideas for a long long time ;p

After All - Sondre Lerche

I like you too much
After too little time
I hold back my heart’s crazy rambling
The fear that I should overwhelm your smile
Frightens the spiders inside me

Oh this could be magic
After all, after all

You daren’t define which has happened to us
Well, I’ve had a name for it for some time
You try to find what it is that you feel
I long to tell you so truly

Oh this could be trouble
After all, after all

And I say is it a dream like it was back then
Is it a dream like it was back in the stars
Could I be so wrong? Could I be so wrong?

Chew every word to prevent what I know
From slipping right out of my fingers
Out of control, I don’t know where to go
‘Cause you were my map when I found you

Oh this could get lonely
After all, after all

And I say is it a dream like it was back then
Is it a dream like it was back in the stars
Could I be so wrong? Could I be so wrong?

No one can say all the things that they feel
Without the risk of a failure
So keep in my cards close to my heart
All of you I loved from a distance

Oh this should be magic
After all, after all


I personally love the record version better, but this acoustic live version one is simply irresistible! Love the lyrics. Love the lyrics.

Karena Rindu Selalu Saja Seperti Itu

Cinta. Ah, siapa yang sanggup mencintaiku? Mungkin aku hanya sebatas gadis nyentrik yang lumayan menarik untuk dipermainkan.

Panggil aku Banyu Sukma. Seorang perempuan biasa yang gemar bertutur cerita pada siapa saja. Cerita yang akan kututurkan ini terpenggal di jantung hatiku. Ya, ya, cerita ini bernuansa cinta, seperti cerita-cerita pada umumnya.

Di sini gelap dan aku nyaris terlelap. Kuselami lautan selimut, bersiap menunggu mimpi yang berencana menjemput. Ini tengah malam, di luar temaram. Kemudian ada hening yang mencekam, membuat kepala pening lantaran syarafku diterkam. Sinting! Oh, rupanya kamu, Sang Pemadam Suram. Bayanganmu telah merayap ke dalam kalam yang hitam.

Izinkan aku menyebutmu Kirana Surya. Seperti laki-laki biasa yang tak banyak cakap, kamu juga diam. Tapi kamulah ilham, inspirasiku untuk meracap. Kamulah yang berhasil menembus pertahanan kalbu sampai akhirnya aku mengandung rindu yang tak terbendung, untuk kemudian melahirkan ratapan gundah yang penuh gulana prasangka.

Gulana prasangka. Cih, apa-apaan istilahnya. Tapi rasa-rasanya memang begitu. Rindu selalu saja seperti itu. Selalu penuh duga dan penuh curiga. “Adakah gelisah ini dirasanya jua?”

Memang benar kata temanku, namanya Nur Fajar, dia bilang “Malam adalah ketika ramai dikulum gelap. Segalanya disekap, diubah kelu, menjadi bisu. Yang ada hanya rindu menggebu pada sosok yang kerap ditunggu.”

Celakanya, memang kamulah si sosok itu. Yang kurindu, yang benar-benar aku tunggu. Kamulah yang sebenarnya aku tidak perlu, seperti halnya rokok yang tidak pernah kubutuhkan dalam hidupku. Akan tetapi sering kuinginkan sewaktu-waktu. Ya, kamu tak ubahnya seperti kudapan kesukaanmu itu.

Ini dini hari. Gagal sudah aku terlelap dalam fantasi. Yang ada aku siaga dalam menghadapi realita ini: ada dua jiwa dalam satu raga. Itu kamu. Seperti anak kembar yang bertolak belakang. Sementara sesosok dalam dirimu seolah bilang “Kejar aku, Sayang. Aku senang”, ada sosok lain yang tertawa lantang, “Kejar saja aku, Pecundang. Aku akan lari lebih kencang!” Begitu. Itulah dirimu.

Tapi aku sangsi kau mengerti perumpamaan ‘lari-lari’ tadi. Bagaimanapun, ada perbedaan mendasar di antara kita: aku pecinta kata, kamu pemuja logika. Ketika aku mempermainkan bahasa, kamu mengulik angka. Jadi sepertinya bahasa kita harus disamakan, kiasan itu harus kusederhanakan. Intinya, aku ingin bilang begini: pikiranmu adalah medali yang ingin kudapatkan, hatimu adalah trofi yang ingin kumenangkan, dengan segala cara perjuangan. Kamu adalah tantangan yang sungguh ingin kutaklukkan!

Ya, kuakui saja. Menjadi kekasihmu itu tidak mudah. Melainkan mudah-mudahan. (Ya, itu barusan aku melawak dengan anganku. Silakan kamu tertawa di atas harapanku!)

Kirana Surya, memikirkanmu kadang membosankan. Tapi selalu berkesan, walau tak beralasan. Seperti kopi yang tidak baik untuk kesehatan tetapi terus saja kumasukkan ke dalam badan. Ya, kamu juga seperti kopi. Ya, aku baru saja menyamakanmu dengan minuman kesukaanku. Selalu ada suatu perasaan kehilangan ketika aku sampai di tetes kopi terakhir, seperti halnya hampa yang terasa saat aku menutup pintu mobilmu sembari berkata, “Terima kasih, Kirana, sampai jumpa!”

Ya ampun! Baru kusadari, panjang juga aku berkisah asmara nestapa. Kalau Nur Fajar tahu, ia akan mencibirku begini, “Mau sampai kapan kamu merajuk dengan suntuk? Dia terlalu banyak alasan.” Ah ya, benar juga. Haruskah aku merajuk dengan suntuk? Kamu memang terlalu banyak alasan.

Alasanmu salah satunya kamu mengaku tidak peka. Kamu kira aku juga pandai membaca pertanda? Tidak juga. Sedangkan alasanmu yang utama, kamu pernah bilang, kamu memang belum mahir soal urusan cinta. Seolah-olah aku ini pecinta ulung. Padahal tahu apa aku soal cinta?

Apakah cinta hanya sebatas ucapan? Apakah cinta adalah kompromi yang disepakati? Apakah cinta itu pengorbanan? Apakah cinta merupakan pelampiasan nafsu? Apakah cinta alasan dari rindu yang berkepanjangan? Apakah cinta itu kasih sayang yang tak berkesudahan?

Aku tidak tahu. Dan aku ingin mencari tahu. Denganmu.

Lagi-lagi, Nur Fajar kawanku yang bijak pernah berangan, “Andai definisi cinta itu seperti udara –tulus menderma tanpa batas, tanpa balas.” Ya, kupikir-pikir sepertinya begitu. Kamu tahu aku, tidak mungkin aku memaksa. Kalau kamu tidak suka bilang saja. Paling yang patah hanya hatiku saja, tapi setidaknya otakku akan berhenti bertanya-tanya.

Ini sudah pagi. Bulan purnama sudah dikalahkan matahari. Mungkin kamu masih di rumah, memilih sepatu putih mana yang akan dipakai hari ini. Mungkin juga kamu sudah di jalan (mudah-mudahan) bebas hambatan, bergegas menuju universitas. Mungkin juga kamu sudah mengumpat soal aktivitasmu yang padat dan mengeluhkan rutinitas pelajaran yang membosankan. Mungkin saja. Satu hal yang pasti kamu tidak tahu, semalaman aku memikirkanmu sampai mantap, nyaris sarap.

Karena rindu selalu saja seperti itu, mengendap, tak terucap.

berkah romadon: ketika galauku menjadi gelakmu

It seems that there’s nothing I can do better other than making fun of myself. And trust me, I’m quite proud of this ability (hey, not everyone can laugh at themselves, unfortunately). Anyway, without banyak cingcong londo, sepertinya gue jelasin aja tentang si Berkah Romadon ini.

So, as you may or may not know ya, para pembaca. Sejak kelas satu SMA gue naksir sama seorang laki-laki (sebut saja #marselsiahaan dan bukan, #marselsiahaan bukan Nicholas Saputra d’oh, kalo Mas Nic sih udah gue gebet dari sejak kelas 4 SD!) yang sekarang ini menjadi….ya tetep menjadi gebetan naksir-naksir gak kegapai aja sih. Haha. Ya begitulah. Aku memang tidak pandai menjerat laki-laki sepertinya.

Anyway, seperti cewek-cewek bergebetan pada umumnya ya, gue juga suka nge-galau-galau gitulah. Ke-GR-an dikit, galau. Kangen dikit, galau. Dimention dikit, galau. Ditanyain progress dikit, galau. Ah, pokoknya gue sekarang dilemma antara mau jadi Ratu Galau Nusantara apa Ratu Mure Nusantara gitulah, abis dua-duanya kok rasanya pas. #hadeh #meuniwatirpisanaing #mendadakSunda

Nah, weekend kemaren itu kegalauan gue kayaknya mencapai klimaks. Gak tau kenapa, mungkin karena sebelumnya gue abis bergaul galau bersama para mantan cosmogirls of the year, mungkin juga karena ini udah waktunya (azeek, “semua indah pada waktunya”-isme), mungkin juga karena itu malem sabtu kliwon #KlenikUnite yang jelas, malem itu banyak bet inspirasi gundah gulananya. Terima kasih #marselsiahaan!

Bagi yang follow Twitter gue, @nindysm, tentunya lo udah pada tau kalo gue galau gue kumat, gue suka mendadak puitis romantis najis kan. Ya mulai dari ngequote sajak-sajak Sitok Srengenge, ngeritiwit kata-kata galau Zarry Hendrik ampe bikin-bikin puisi sendiri. Kali ini berbeda. Rasa-rasanya gue gak mau keliatan segitu desperatenya dengan kata-kata yang tajam dan menusuk, gengsi dong (hem, udah naksir lima taon masih punya gengsi juga lo, nin? #keplakdirisendiri). Secara udah terhalang perbedaan keyakinan juga ya (gue yakin gue mau sama dia, dia gak yakin mau sama gue #eaaaa), yaudah lah kitorang all out saja. Lepas harga diri. Berikut hasil karyanya.


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebenernya di GEBETAN itu gue udah mau insyaf lantaran banyak temen dan followers yang protes karena rahangnya mau lepas gara-gara ketawa. Cuman ternyata pas Sabtu paginya, sahabatku yang paling bangke, jeng Mar mengobarkan semangat kegalauan gue dengan beberapa kreasinya sebagai berikut.


 

Dan akhirnya pun gue bangkit kembali.

 

 

 
Lalu gong-nya.

 

Dan setelah itupun gue tobat. Antara idenya akhirnya mentok sama ya, dengan “penyebutan merek” Marcell Siahaan, kayanya udah selesai aja gitu. Lagian seiring kepecahan timelinenya meningkat, kayanya harapan gue berjodohnya jadi menipis. Hahahaha #ForeverAlone.

Anyway, seiring dengan banyaknya compliments yang masuk, tak dinyana tak diduga ada respon ini.

 
JANTUNG GUE MAU MELEDAK. SUMPAH. SUMFAH. SYUMFAH.

Bukannya norak karena dimention, eh…eh iya sih norak karena dimention #labil, lagian sebelomnya ini pernah kejadian juga. Tapi ya gitu seneng aja sih dimention. Apalagi secara si #marselsiahaan diem aje (mungkin juga dia lagi Yasiinan “Ya Aloh, wanita ini -___-” pas baca timeline gue. kali ya), eh ternyata eh ternyata justru direspon sama Marcell Siahaan asli! Ramadhan membawa berkah ini judulnya.

Senang juga deh kalau kegalauan gue bisa menghibur. Rasa-rasanya patah hatinya gak sia-sia hahaha.

Alhamdulillah yah, sesuatu banget loh.

(Pas blog ini diposting, Nindy sedang mempertimbangkan untuk move on dari si #marselsiahaan dan mencari seorang ‘rezagunawan’. Mempertimbangkan ya ;p)

dalam benakku kau mengembara. oleh bayangmu aku terpenjara
Dalam Benakku

Dalam benakku ada dia, si pecinta kata,
yang hanya kukenal sebatas nama,
dan kujumpa di dunia maya.

Dalam benakku ada dia, si pujangga urban,
yang membuat jariku belingsatan,
karena tak sabar menulis serangkai puji-pujian.

Dalam benakku ada dia, si pemikir ulung,
yang konon menunggu datangnya seorang petarung,
agar memenangkan hatinya -sungguh hadiah yang tidak tanggung-tanggung!

Dalam benakku ada aku yang tersenyum sinis.
Menertawakan diri sendiri yang mudah luluh oleh perkataan manis.
Mengecam kenekatan jemari yang mengetik sajak romantis.

Dalam benakku ada aku yang ternganga.
Melihat serangkaian kalimat yang telah tercipta sebagai karya.
Membisu dalam sangsi yang juga bercampur keyakinan jumawa.

Dalam benakku ada aku yang diam-diam berharap.
Menyebut namanya terus-menerus seperti orang sarap.
Menanti datangnya hari di mana aku dan dia duduk saling hadap.

Dalam benakku aku agaknya tahu, akan sia-sia aku menunggu.