semacam soneta

maaf,
bukan maaf yang paling sulit tuk diucapkan.
melainkan rindu.

semisalnya itu kukatakan padamu,
kemungkinan besar kau akan angkat kaki.
segera pergi.

kerap aku mengeluhkan,
kita yang terlampau dekat.
dan sedikit friksi tentu akan menimbulkan api.

kau,
segalanya di luar rencana semula.
seharusnya bukan kau.

dan sekarang gejolak ini
tak kunjung juga berhenti.

gemerlap gelap

mataku belum pejam, aku orang malam
dengan kalam yang agak hitam.
menulis tentang suram
di dalam temaram.

bersandar pada pemanas elektrik.
ada hangat yang bukan otentik.
persetan! tidak semuanya mesti organik.

ini saat-saat hening.
waktu semua bergeming dalam mimpi masing-masing.semua, kecuali aku. si orang sinting.

waktu tolong berhenti di sini.
di dini hari, karena aku tak ingin pagi.
di mana dunia mulai lagi berorasi
tentang hidup sebagai arena kompetisi.

 -dini hari, lima belas februari, tiga tiga tiga pagi.


never thought i’m gonna say this but i miss my old-workaholic-self. i miss the time when i can stay up all night, doing work and show up the next morning, still fresh and ready to go. cos lately, life has been going towards lazy-ville and the scary thing is, though i’m clearly walking into the dark, i simply keep on strolling.

gemerlap gelap

mataku belum pejam, aku orang malam
dengan kalam yang agak hitam.
menulis tentang suram
di dalam temaram.

bersandar pada pemanas elektrik.
ada hangat yang bukan otentik.
persetan! tidak semuanya mesti organik.

ini saat-saat hening.
waktu semua bergeming dalam mimpi masing-masing.
semua, kecuali aku. si orang sinting.

waktu tolong berhenti di sini.
di dini hari, karena aku tak ingin pagi.
di mana dunia mulai lagi berorasi
tentang hidup sebagai arena kompetisi.

-dini hari, lima belas februari, tiga tiga tiga pagi.


never thought i’m gonna say this but i miss my old-workaholic-self. i miss the time when i can stay up all night, doing work and show up the next morning, still fresh and ready to go. cos lately, life has been going towards lazy-ville and the scary thing is, though i’m clearly walking into the dark, i simply keep on strolling.

(Source: beanfield)

selamat pagi

manakala segala urusan kasur,
dengkur dan tidur harus digusur
oleh sang fajar di ufuk timur.
waktunya meluncur ke dapur.

kemudian aku mengawali hari
dengan secangkir kopi,
tanpa ditemani roti.

di seberang meja makan,
dia membaca koran, pelan-pelan
sambil sarapan.

selanjutnya senyap.
tak banyak kata yang terucap.
hanya mataku yang menatap,
semacam mengendap-endap.

soap-lobster:

Jakarty City



kabut, membalut kalut. lanjut cemberut, kerap berharap. tidak siap, disergap rindu yang rupanya mengendap-ngendap.

oh, inilah jakarta.

yang buram tapi tak juga suram. entah bejat atau hebat, hasratku merambat.

dari kepala sampai dada.

soap-lobster:

Jakarty City

kabut, membalut kalut. lanjut cemberut, kerap berharap. tidak siap, disergap rindu yang rupanya mengendap-ngendap. oh, inilah jakarta. yang buram tapi tak juga suram. entah bejat atau hebat, hasratku merambat. dari kepala sampai dada.
Sekedar Permainan Kata

Konon, kata adalah pedang yang lebih tajam dari belati. Mungkin memang ini senjata untuk menusuk jantung hati.

“Banyu buatkan aku puisi cinta,” pinta Lalita Anjali, sahabatku yang jelita dan senantiasa rapi jali. “Tentang cinta? Kenapa aku?”aku pura-pura tidak tahu. Padahal aku tahu pasti kenapa dia memintaku menulis puisi. Begini kisahnya,

Aku pernah,
berkeluh kesah
tentang kekasih.

Berdesah gelisah,
sampai pasrah
lalu kalah.

Ruhku telah
merintih perih
sampai tubuh
lantak luluh.

Kemudian jatuh,
terluka parah.

Aku salah,
hilang arah.

Menahan marah,
menyimpan perih
penuh jerih payah.

Kemudian bersauh,
lalu jauh.

Masih ada gemuruh,
belum hilang amarah,
semakin pedih,
menjadi keruh
perasaan rikuh
bertambah rapuh.

Mencari celah
di tengah riuh
untuk bersimpuh,
sambil bersumpah
aku pasti sembuh.

Ya, kira-kira begitulah.

Sepertinya sekarang si Lalita sedang jatuh cinta. Atau mungkin hanya aku yang berprasangka. Ah, tapi sepertinya memang iya. Tidak ada orang yang menyukai puisi dan permainan kata bila dia tidak sedang jatuh cinta, menurut pengalaman dan observasiku begitu. Kata-kata puitis tidak akan bermakna manis kalau hati tidak sedang dikuasai romansa.

Mengenai kata-kata puitis, tidak ada yang lebih mahir untuk menulisnya selain orang-orang yang sedang atau pernah menjudikan perasaannya dan konon, kaum-kaum yang pernah ditipu cinta (dalam hal ini, aku, Banyu Sukma), adalah yang paling mahir. Memang, ada yang pernah bilang kalau sesungguhnya orang-orang yang pandai menulis tentang cinta, biasanya kehidupan cintanya penuh air mata. Aku tidak tahu seberapa tepat maklumat itu, mungkin saja sangat meleset, tapi aku percaya akan pernyataan ini: penulis cenderung memiliki lika-liku asmara yang kompleks! Ha!

Sejujurnya, aku tidak sedang ingin menulis tentang cinta, asmara, romansa, dan hal-hal semacam itu. Menulisnya seperti membangkitkan kembali segala ‘angan’ yang tersimpan dalam ‘kenangan’. Tentang siapa lagi kalau bukan…Kirana Surya, si lelaki penuh teka-teki yang pernah menjadi bintang filosofiku.

Bisa jadi aku dan Kirana dulu itu seperti bintang, cahayanya saja yang masih terpancar dan tertangkap mataku, membuatku sibuk dalam angan sendiri, sembari tangan menulis rangkaian puisi. Padahal bintangnya sudah lama mati. Bintangnya sudah mati.

Ah ya, tapi ini kan bukan tentang aku ataupun Kirana. Ini tentang Lalita dan siapapun itu yang berhasil mencuri hatinya. Aku, tidak berkata banyak sebenarnya. Kecuali hati-hati.

Hati-hati bermain hati.
Lalai sedikit,
terlukai lalu sakit.

Bila sudah terlanjur tersakiti,
resapi sendiri,
sembari menunggu waktu tuk tanggulangi.

Menunggu, ya memang menunggu.
Seperti waktu dulu
menahan rindu.

Karena tidak mungkin memang,
mengikis karang
yang bersarang
di hatimu sekarang.

(Untuk sahabat SMA, Rafni Alverina, selamat ulang tahun :-*)

Karena Rindu Selalu Saja Seperti Itu

Cinta. Ah, siapa yang sanggup mencintaiku? Mungkin aku hanya sebatas gadis nyentrik yang lumayan menarik untuk dipermainkan.

Panggil aku Banyu Sukma. Seorang perempuan biasa yang gemar bertutur cerita pada siapa saja. Cerita yang akan kututurkan ini terpenggal di jantung hatiku. Ya, ya, cerita ini bernuansa cinta, seperti cerita-cerita pada umumnya.

Di sini gelap dan aku nyaris terlelap. Kuselami lautan selimut, bersiap menunggu mimpi yang berencana menjemput. Ini tengah malam, di luar temaram. Kemudian ada hening yang mencekam, membuat kepala pening lantaran syarafku diterkam. Sinting! Oh, rupanya kamu, Sang Pemadam Suram. Bayanganmu telah merayap ke dalam kalam yang hitam.

Izinkan aku menyebutmu Kirana Surya. Seperti laki-laki biasa yang tak banyak cakap, kamu juga diam. Tapi kamulah ilham, inspirasiku untuk meracap. Kamulah yang berhasil menembus pertahanan kalbu sampai akhirnya aku mengandung rindu yang tak terbendung, untuk kemudian melahirkan ratapan gundah yang penuh gulana prasangka.

Gulana prasangka. Cih, apa-apaan istilahnya. Tapi rasa-rasanya memang begitu. Rindu selalu saja seperti itu. Selalu penuh duga dan penuh curiga. “Adakah gelisah ini dirasanya jua?”

Memang benar kata temanku, namanya Nur Fajar, dia bilang “Malam adalah ketika ramai dikulum gelap. Segalanya disekap, diubah kelu, menjadi bisu. Yang ada hanya rindu menggebu pada sosok yang kerap ditunggu.”

Celakanya, memang kamulah si sosok itu. Yang kurindu, yang benar-benar aku tunggu. Kamulah yang sebenarnya aku tidak perlu, seperti halnya rokok yang tidak pernah kubutuhkan dalam hidupku. Akan tetapi sering kuinginkan sewaktu-waktu. Ya, kamu tak ubahnya seperti kudapan kesukaanmu itu.

Ini dini hari. Gagal sudah aku terlelap dalam fantasi. Yang ada aku siaga dalam menghadapi realita ini: ada dua jiwa dalam satu raga. Itu kamu. Seperti anak kembar yang bertolak belakang. Sementara sesosok dalam dirimu seolah bilang “Kejar aku, Sayang. Aku senang”, ada sosok lain yang tertawa lantang, “Kejar saja aku, Pecundang. Aku akan lari lebih kencang!” Begitu. Itulah dirimu.

Tapi aku sangsi kau mengerti perumpamaan ‘lari-lari’ tadi. Bagaimanapun, ada perbedaan mendasar di antara kita: aku pecinta kata, kamu pemuja logika. Ketika aku mempermainkan bahasa, kamu mengulik angka. Jadi sepertinya bahasa kita harus disamakan, kiasan itu harus kusederhanakan. Intinya, aku ingin bilang begini: pikiranmu adalah medali yang ingin kudapatkan, hatimu adalah trofi yang ingin kumenangkan, dengan segala cara perjuangan. Kamu adalah tantangan yang sungguh ingin kutaklukkan!

Ya, kuakui saja. Menjadi kekasihmu itu tidak mudah. Melainkan mudah-mudahan. (Ya, itu barusan aku melawak dengan anganku. Silakan kamu tertawa di atas harapanku!)

Kirana Surya, memikirkanmu kadang membosankan. Tapi selalu berkesan, walau tak beralasan. Seperti kopi yang tidak baik untuk kesehatan tetapi terus saja kumasukkan ke dalam badan. Ya, kamu juga seperti kopi. Ya, aku baru saja menyamakanmu dengan minuman kesukaanku. Selalu ada suatu perasaan kehilangan ketika aku sampai di tetes kopi terakhir, seperti halnya hampa yang terasa saat aku menutup pintu mobilmu sembari berkata, “Terima kasih, Kirana, sampai jumpa!”

Ya ampun! Baru kusadari, panjang juga aku berkisah asmara nestapa. Kalau Nur Fajar tahu, ia akan mencibirku begini, “Mau sampai kapan kamu merajuk dengan suntuk? Dia terlalu banyak alasan.” Ah ya, benar juga. Haruskah aku merajuk dengan suntuk? Kamu memang terlalu banyak alasan.

Alasanmu salah satunya kamu mengaku tidak peka. Kamu kira aku juga pandai membaca pertanda? Tidak juga. Sedangkan alasanmu yang utama, kamu pernah bilang, kamu memang belum mahir soal urusan cinta. Seolah-olah aku ini pecinta ulung. Padahal tahu apa aku soal cinta?

Apakah cinta hanya sebatas ucapan? Apakah cinta adalah kompromi yang disepakati? Apakah cinta itu pengorbanan? Apakah cinta merupakan pelampiasan nafsu? Apakah cinta alasan dari rindu yang berkepanjangan? Apakah cinta itu kasih sayang yang tak berkesudahan?

Aku tidak tahu. Dan aku ingin mencari tahu. Denganmu.

Lagi-lagi, Nur Fajar kawanku yang bijak pernah berangan, “Andai definisi cinta itu seperti udara –tulus menderma tanpa batas, tanpa balas.” Ya, kupikir-pikir sepertinya begitu. Kamu tahu aku, tidak mungkin aku memaksa. Kalau kamu tidak suka bilang saja. Paling yang patah hanya hatiku saja, tapi setidaknya otakku akan berhenti bertanya-tanya.

Ini sudah pagi. Bulan purnama sudah dikalahkan matahari. Mungkin kamu masih di rumah, memilih sepatu putih mana yang akan dipakai hari ini. Mungkin juga kamu sudah di jalan (mudah-mudahan) bebas hambatan, bergegas menuju universitas. Mungkin juga kamu sudah mengumpat soal aktivitasmu yang padat dan mengeluhkan rutinitas pelajaran yang membosankan. Mungkin saja. Satu hal yang pasti kamu tidak tahu, semalaman aku memikirkanmu sampai mantap, nyaris sarap.

Karena rindu selalu saja seperti itu, mengendap, tak terucap.

berkah romadon: ketika galauku menjadi gelakmu

It seems that there’s nothing I can do better other than making fun of myself. And trust me, I’m quite proud of this ability (hey, not everyone can laugh at themselves, unfortunately). Anyway, without banyak cingcong londo, sepertinya gue jelasin aja tentang si Berkah Romadon ini.

So, as you may or may not know ya, para pembaca. Sejak kelas satu SMA gue naksir sama seorang laki-laki (sebut saja #marselsiahaan dan bukan, #marselsiahaan bukan Nicholas Saputra d’oh, kalo Mas Nic sih udah gue gebet dari sejak kelas 4 SD!) yang sekarang ini menjadi….ya tetep menjadi gebetan naksir-naksir gak kegapai aja sih. Haha. Ya begitulah. Aku memang tidak pandai menjerat laki-laki sepertinya.

Anyway, seperti cewek-cewek bergebetan pada umumnya ya, gue juga suka nge-galau-galau gitulah. Ke-GR-an dikit, galau. Kangen dikit, galau. Dimention dikit, galau. Ditanyain progress dikit, galau. Ah, pokoknya gue sekarang dilemma antara mau jadi Ratu Galau Nusantara apa Ratu Mure Nusantara gitulah, abis dua-duanya kok rasanya pas. #hadeh #meuniwatirpisanaing #mendadakSunda

Nah, weekend kemaren itu kegalauan gue kayaknya mencapai klimaks. Gak tau kenapa, mungkin karena sebelumnya gue abis bergaul galau bersama para mantan cosmogirls of the year, mungkin juga karena ini udah waktunya (azeek, “semua indah pada waktunya”-isme), mungkin juga karena itu malem sabtu kliwon #KlenikUnite yang jelas, malem itu banyak bet inspirasi gundah gulananya. Terima kasih #marselsiahaan!

Bagi yang follow Twitter gue, @nindysm, tentunya lo udah pada tau kalo gue galau gue kumat, gue suka mendadak puitis romantis najis kan. Ya mulai dari ngequote sajak-sajak Sitok Srengenge, ngeritiwit kata-kata galau Zarry Hendrik ampe bikin-bikin puisi sendiri. Kali ini berbeda. Rasa-rasanya gue gak mau keliatan segitu desperatenya dengan kata-kata yang tajam dan menusuk, gengsi dong (hem, udah naksir lima taon masih punya gengsi juga lo, nin? #keplakdirisendiri). Secara udah terhalang perbedaan keyakinan juga ya (gue yakin gue mau sama dia, dia gak yakin mau sama gue #eaaaa), yaudah lah kitorang all out saja. Lepas harga diri. Berikut hasil karyanya.


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebenernya di GEBETAN itu gue udah mau insyaf lantaran banyak temen dan followers yang protes karena rahangnya mau lepas gara-gara ketawa. Cuman ternyata pas Sabtu paginya, sahabatku yang paling bangke, jeng Mar mengobarkan semangat kegalauan gue dengan beberapa kreasinya sebagai berikut.


 

Dan akhirnya pun gue bangkit kembali.

 

 

 
Lalu gong-nya.

 

Dan setelah itupun gue tobat. Antara idenya akhirnya mentok sama ya, dengan “penyebutan merek” Marcell Siahaan, kayanya udah selesai aja gitu. Lagian seiring kepecahan timelinenya meningkat, kayanya harapan gue berjodohnya jadi menipis. Hahahaha #ForeverAlone.

Anyway, seiring dengan banyaknya compliments yang masuk, tak dinyana tak diduga ada respon ini.

 
JANTUNG GUE MAU MELEDAK. SUMPAH. SUMFAH. SYUMFAH.

Bukannya norak karena dimention, eh…eh iya sih norak karena dimention #labil, lagian sebelomnya ini pernah kejadian juga. Tapi ya gitu seneng aja sih dimention. Apalagi secara si #marselsiahaan diem aje (mungkin juga dia lagi Yasiinan “Ya Aloh, wanita ini -___-” pas baca timeline gue. kali ya), eh ternyata eh ternyata justru direspon sama Marcell Siahaan asli! Ramadhan membawa berkah ini judulnya.

Senang juga deh kalau kegalauan gue bisa menghibur. Rasa-rasanya patah hatinya gak sia-sia hahaha.

Alhamdulillah yah, sesuatu banget loh.

(Pas blog ini diposting, Nindy sedang mempertimbangkan untuk move on dari si #marselsiahaan dan mencari seorang ‘rezagunawan’. Mempertimbangkan ya ;p)

dalam benakku kau mengembara. oleh bayangmu aku terpenjara
TERPEJAM

Lari
Lari dan lari aku terus lari
dari semua masalah yang mengejarku seiring mereka bereproduksi.

Aku ini pecundang tangguh.
Yang bangga akan kekalahannya.

Aku sedang bersembunyi
Kemudian bersandar dan kupejamkan mataku
Mencari jalan keluar lewat imajinasi
Ketakutan perlahan gerogoti nadiku.

Cepat cari! Cari cepat!
Nanti mereka keburu tahu!

Ha!
Sebuah titik terang muncul dari kejauhan.
Pintu keluar itu ternyata ada di sana.
Kubuka mataku cepat-cepat.

Terlambat.

Mereka sudah menunggu di depanku.
Masalah-masalah itu.

Aku bergeming.
Terpaku dan membisu.
Dalam diam, mataku memejam.

Aku kalah lagi.
Aku lalu lari.

[Flash 9 is required to listen to audio.]  

Prahara Kuliah - Nindy Hampir Mampus

Pertama kali berjumpa denganmu, oh ujian
Dunia seolah kan runtuh
Makan pun tak enak, tidurku pun tiada nyenyak
Selalu teringat, oh dirimu

Inikah oh namanya, kisah sedang nuntut ilmu
Mengapa
Semua begitu, susah dicerna
Begitu sepet dipandang
Seolah
Ku ingin selalu tertidur
Karena aku malas, ‘ku malas

Aku malas
Aku malas
Aku malas

Tiap hari fotokopian t’rasa tebal saja
Selalu terlupa, dan tak ingat
Sampai kapan engkau siksa diriku, dosenku?
Masih banyak lagi materinyaa

Inikah oh namanya, kisah sedang nuntut ilmu
Mengapa
Semua begitu, susah dicerna
Begitu sepet dipandang
Seolah
Ku ingin selalu tertidur
Karena aku malas, ‘ku malas

Aku malas
Aku malas
Aku malas

Pertama kali berjumpa denganmu, oh ujian
Dunia seolah kan runtuh

Tiap hari fotokopian t’rasa tebal saja
Selalu terlupa, dan tak ingat

Inikah oh namanya, kisah sedang nuntut ilmu
Mengapa
Semua begitu, susah dicerna
Begitu sepet dipandang
Seolah
Ku ingin selalu tertidur
Karena aku malas, ‘ku malas

Aku malas
Aku malas
Aku malas

Aku capek
Oh Ho Ho
Aku muak
Aku panik

Aku bingung
Aku gila
Aku sinting

Aku malas
Aku malas
Aku malas

-
ujian mata kuliah “Culture and Cultural Studies” 10 hari lagi dan gue bener-bener JAUH dari yang namanya siap. hmm, mungkin seharusnya sekarang gue belajar ya, bukannya ngulik lirik begini. ah sumpah deh, kewarasan gue patut dipertanyakan sejak gue kuliah. kayaknya urat rajin gue udah osteoporosis deh (err, gimana juga urat osteoporosis?), atau gak efek vetsin chiki-cheetos yang dikonsumsi dari TK akhirnya terakumulasi sekarang. MAMPUS GUE.

oh by the way, lagu aslinya: Prahara Cinta - performed by Rako Prijanto, taken from Arisan! The Series Soundtrack (2006)